Mentari di Pagi menyinari wajaku,membuat aku tergegas untuk bekerja,engkau ciptaan tuhan yang
selalu menemai aku disaat aku merasa dingin.
Wahai matahari tanpamu dunia akan terasa gelap,jikalau engkau tidak diciptakan mungkin kami mahluk ciptan tuhan tak akan melihat terangnya dunia.
Matahari engkau menelimuti dinginya tubuku di setiap aku merasa dingin.
Disaat sore hari engkau menghilang tanpa tau mengapa tetapi engkau selalu menepati janjimu akan kembali menyinari dunia.
Sebua proses akan terasa sunyi jika engkau tak menyinari tubuku,karan mu aku dibesarkan,karna engkau juga aku bertumbu besar.
Di saat aku jauh dengan keluargaku,aku hanya memandangmu untuk melempiaskan kerinduanku terhadap mereka,karna aku yakin keluargahku juga
menikmait panasmu.
Disaat musim hujan engkau tidak selau muncul dan menyinariku, aku pun merasa rindu kedatanganmu,disaat itu pula aku merasa dingin.Engkua menghilang
selama bebrapa bulan tetapi aku percaya tidak perna mengingkari janji akan kembali.
Wahai matahari ketika Nanti engkau kelak punah dan tak akan menerangi bumi aku tak akan melupakanmu sedikitpun,akan kuceritakkan kepada seluruh
keturunaku bawah mataharilah yang perna meyinari dunia,Tetapi jika engkau bertahan dan selalu ada hingga
nafas terahirku maka ceritamu akan kubawankan dan ku kenangkan.
Wahai matahari aku tak akan percaya bawah engkau akan punah,meskip pun engkau sering dicaci dan dimaki tetapi engkau tidak perna mendengarkan cacian itu.
Mungkin ketika aku yang dicaci dan dimaki mungkin telahku jauhi orang-orang itu tetapi engkau selalu setiah menemani meskipun engkau di maki oleh banyak orang engkau adalah penyabar.
Bung :Hendra Nganta