Sekian dekade baru kali ini kebijakan para elit termuara pada pendapat sendiri,tanpa memikirkan para pendidik dan peserta didik.Inikah ujian revormasi bagi pelajar SMK/SMA yang di buat oleh para elit,namun bawasanya kebijakan ini merumitkan sekian banyak orang yang bergelut pada buku.
Bayangkan ketika pelajar berada di perkampungan yang jauh dari sekolah dan kemudian mereka juga tidak memiliki kendaraan.Kemungkinan besar mereka bangun jam 2:30 dalam mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah.Di sisi lain para elit tidak memilah dari sisi NegatifNya menentukan kebijakan seperti ini.Ketika hari ini tindakan kriminal dan terorisme (penculik anak) masi ada maka hal itu pasti akan terjadi.Para penjahat itu gunakan kesempatan untuk beraksi dengan melihat situasi yang di alami siswa,sehingga kesempatan jam 5 pagi siswa akan di hadang.
Belum lagi tindakan pemerkosaan kepada kaum perempuan,baik yang di lalukan oleh orang yang tidak di kenal maupun sesama mereka.Bisa di bayangkan tindakan pemerkosaan itu akan terjadi ketika siswi berangkat sekolah.Lalu dengan siapa mereka berteriak dan meminta pertolongan.Memang betul sekali yang di namakan "perjuangan" untuk mencapai masa depan yang cerah.Namun halNya masa dapat tidak meranjak begitu saja dan tidak di tentukan oleh siapa pun.Dan para asistensi-asistensi yang telah bergejolak mengambil dalil-dalil jam masuk sekolah.Apakah mereka bangun jam 3 pagi untuk beraktivitas??. Saya rasa tidak!! kita sebagai manusia memiliki keterbatasan.
Ada apa dengan kebijakan ini?.Jangan sampe ada konsep-konsep tertentu?Inikah pemaknaan dari kebijakan mengambil keputusan tanpa mengenal bagi mana penerapan pendidikan yang seharusnya di jalankan.Memang betul kebijakan ini sebagai kekuasaan Otonomi Daerah sebagai rumah sendiri,namun mentri pendidikan RI selalu membatasi aktivitas jam sekolah,tidak seperti aturan otonomi daerah yang baru-baru ini di terapkan.
Dan kemudian setelah jam 5 di batalkan,sekarang di majuhkan jamNya yaitu jam 5:30 berarti sudah semakin cerdas konsepnya,belum efektif tapi menuju cerdas berpikir.Mari memilah dari sisi-sisi yang tidak menguntungkan atau memikirkan orang-orang yang bergelut pada buku.Mencari sebuah tenar bukan dengan cara naif seperti kebijakan itu.
Kita sebagai manusia memiliki keterbatasan.Tentunya bukan mesin atau robot,dan yang pasti sebagai makluk yang merasakan cape.
Kritik normal 🖊⚖️⚖️🔑 Hendra Nganta
✍️✍️....salam kopi pa'it,kopi tuk telo☕☕