Kenyatan adalah sebuah kebenaran yang harus diterima dan iklas untuk melepaskan,kebenaran dan kenyataan itu adalah sebuah kabar yang tak terduga,baik kenyataan yang membawa kebaikan maupun kenyataan yang membawa sebuah kekecewaan dan penyesalan.Penyesalan diperkirakan tak datang dari bab awal namun penyesalan itu selalu tiba pada ahir cerita.
Sekian banyak kisah yang telah tergenggam,sekian banyak perubahan yang telah melekat dalam diri,namun pada hari ini terdapat sebuak kabar hingga tak dapat lagi untuk digenggam.Kabar itu membawa sebuah ketakutan dan keraguan,keraguan itu adalah keraguan tak ingin dipercayakan lagi.
Waktu demi waktu terlewati kisa indah hampir punah diujung waktu,dan halaman ini adalah cerita yang paling menyedikan diantara halaman dan cerita-cerita sebelumnya.Merasa takut,terasa hampa,susah menelan air luda,sesak di dada,tak tau membedakan warna, seolah-olah sedang memikul batu besar.
Benar sekalih yang orang-orang bilang,jika dalam hidup berani mengambil sebuah keputusan tentu keputusan itu akan dipertanggung jawabkan.Berani berbuat berani pula memikul resiko,reskio menyakitkan hati,merasa dilema yang tinggi.Itu semua berasal dari kenyataan. Dan kenyataan itu harus dapat diterima dengan lapang dada.Namun saat ini aku belum bisa menerima kenyataan yang ada.
Kenyatan itu adalah pilihan tetapi bodohnya diri tak dapat menerima apa yang telah terjadi,namun itulah manusia takut kehilangan,takut untuk berpisah.Tapi di sisi lain Tuhan masi berkata lain,mungkin itu adalah bukan yang tepat,bukan benar.
Apalah daya! Cerita indah dikala itu terasa hampa dan menggores hati di saat membawa sebuah kabar bahaw,sejauh ini kita melangkah bersama namun engkau berhenti dalam sekecap mata dengan alasan ada yang sedang di tunggu.Apakah ini adalah penyesalan?Jika ini adalah penyesalan mengapa engkau tak membisiki di telingaku,bahwa jangan terlalu melangkah jauh,sebab aku akan berhenti di tengah-tengah jalan dan membiarkan aku menyimpan banyak cerita dan memikul beratnya luka.
Kutuliskan kisah ini untuk memberi motivasi atas diriku yang tak mau melepaskan.
By : Hendra