KELAS: 2021 F
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
SANTU
PAULUS RUTENG
2024/2025
MODEL-MODEL PEMBELAJARAN
INOVATIF
Model
pembelajaran inovatif adalah suatu pendekatan atau metode pembelajaran yang
menggunakan cara-cara kreatif dan mendepankan pemikiran kritis, keterlibatan
aktif dan partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran
ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa secara mandiri,
kreatif dan inovatif sehingga mereka bisa menghasilkan ide-ide baru, memecahkan
masalah dan mengaplikaikan pengetahuan dalam kehidupan nyata.
Model
pembelajaran inovatif ini berbeda dengan pendekatan pembelajaran tradisional
yang lebih bersifat instruktif, di mana guru berperan sebagai sumber informasi
utama dan siswa lebih pasif dalam menerima pengetahuan. Model pembelajaran
inovatif melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajarn, seperti
diskusi kelompok, proyek kaloboratif, eksperimen, simulasi dan multi media
interaktif.
Beberapa contoh model pembelajaran inovatif antara lain adalah cooperative learning, problem based learning, project-based learning, inquiry-based learning, flipped classroom, dan blended learning. Model-model ini menekankan pada pembelajaran yang berpusat pada siswa, dimana mereka menjadi pusat dari proses pembelajaran dan guru beperan sebagai fasilitator, pembimbing dan pengarah.
A. Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif
merupakan sebuah strategi pembelajaran yang
melibatkan siswa yang
bekerja secara kolaborasi
untuk mencapai tujuan
bersama. Pembelajaran kooperatif disusun dalam
sebuah usaha untuk
meningkatkan partisipasi siswa, menfasilitasi siswa
dengan pengalaman sikap kepemimpinan dan
membuat keputusan dalam kelompok serta memberikan kesempatan
pada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama yang berbeda latar
belakangnya (Afandi, Chamalah, & Wardani, 2013:53). Dalam jurnal Zuriatun Hasanah dan Ahmad
Shofiyul Himami.
Sedangkan menurut
Slavin (Trianto, 2007:50) dalam jurnal Aceng Jaelani, coopertive learning mengandung
pengertian sebagai suatu sikap/perilaku bersama dalam bekerja membantu diantara
sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari
dua orang atau lebih dimana keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh
keterlibatan dari setiap individu dalam kelompok itu sendiri. Sehingga model
pembelajaran kooperatif ini memandang keberhasilan dalam belajar bukan
semata-mata harus diperoleh dan guru, melainkan bisa juga dan pihak yang
terlibat dalam pembelajaran itu yaitu teman sebaya.
● Karakteristik Model Pembelajaran Kooperatif
1. Pembelajaran
secara tim
2. Didasarkan pada
manajemen kooperatif
3. Kemampuan
untuk bekerja sama
4. Keterampilan untuk bekerja sama
● Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif
Terdapat enam
langkah utama atau
tahapan di dalam
pelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif. Adapun
langkah-langkahnya sebagai berikut:
a.
Fase-1: Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Guru menyampaikan
semua tujuan yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa
untuk belajar
b.
Fase-2: Menyajikan informasi Guru menyampaikan informasi kepada
siswa dengan jalan lewat demonstrasi atau bahan bacaan
c. Fase-3: Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok kooperatif Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok belajar dan membenntuk setiap kelompok agar melakukan transisi secara efesien
d. Fase-4: Guru membimbing kelompok bekerja dan belajar Guru membimbing kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas
e.
Fase-5: EvaluasiGuru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang
telah dipelajari atau meminta setiap kelompok untuk mempresentasikan hasil
kerja mereka
f. Fase-6: Memberikan Penghargaan Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok (Sani, 2003: 32). Dalam jurnal Zuriatun Hasanah dan Ahmad Shofiyul Himami
Penulis: Zuriatun
Hasanah dan Ahmad Shofiyul Himami
Judul:
Model
Pembelajaran Kooperatif Dalam Menumbuhkan Keaktifan
Belajar Siswa
Judul: Pembelajaran Kooperatif, Sebagai Salah Satu Model Pembelajaran Di Madrasah Ibtidaiyya (MI).
Referensi:
Hasanah, Z., dan Himami, A, S. (2021). Model
Pembelajaran Kooperatif Dalam Enumbuhkan
Keaktifan Belajar Siswa. Jurnal Studi
Kemahasiswaan, 1(1). https://jurnal.stituwjombang.ac.id/index.php/irsyaduna
Jaelani, A. (2015). Pembelajaran Kooperatif, Sebagai Salah Satu Model Pembelajaran Di Madrasah Ibtidaiyya (MI). Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI, 2(1). 10.24235/al.ibtida.snj.v2i1.189
B. Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
Pembelajaran berbasis
masalah (Problem-based Learning) merupakan
salah satu model yang tepat
dikembangkan dalam
pembelajaran teknologi untuk
merespon isu-isu peningkatan kualitas
pembelajaran teknologi dan antisipasi perubahan-perubahan yang terjadi di
dunia kerja. Pembelajaran
Berbasis Masalah (PBL) adalah strategi
pembelajaran yang
“menggerakkan” siswa belajar
secara aktif memecahkan masalah
yang kompleks dalam situasi
realistik. PBL dapat
digunakan untuk pembelajaran di tingkat mata pelajaran, unit mata pelajaran, atau
keseluruhan kurikulum. PBL
seringkali dilakukan dalam
lingkungan belajar tim
dengan penekanan pada kegiatan
membangun pengetahuan dan
keterampilan yang
berhubungan dengan pengambilan
keputusan secara konsensus,
dialog dan diskusi, kerjasama
tim, manajemen konflik, dan kepemimpinan tim.
Pembelajaran berbasis
masalah (Problem based Learning) juga merupakan pendekatan pembelajaran yang
menggunakan masalah dunia nyata
sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara
berpikir kritis dan keterampilan
pemecahan masalah, serta untuk
memperoleh pengetahuan dan konsep
yang esensial dari
materi pelajaran. (Nurhadi, 2004) dalam jurnal Herminarto Sofyan dan Kokom
Komariah. Dengan
demikian PBL merupakan pembelajaran yang dipandu
oleh permasalahan dimana
sebelumnya siswa diberikan
permasalahan. Dalam hal ini
diperlukan pengetahuan baru
untuk memecahkannnya.
Menurut
Anugraheni (2018 : 11) dalam jurnal Andika Dinar Pamungkas, Firosalia
Kristin dan Indri Anugraheni. Model pembelajaran Problem Based
Learning atau dalam model pembelajaran berbasis
masalah merupakan suatu
model pembelajaran yang melibatkan siswa dalam kegiatan pembelajaran
serta mengutamakan permasalahan
nyata baik di
lingkungan sekolah, rumah,
atau masyarakat sebagai dasar untuk
memperoleh pengetahuan dan konsep
melalui kemampuan dalam keterampilan berpikir kritis dan memecahkan masalah.
● Karakteristik pembelajaran PBL
1. siswa harus peka
terhadap lingkungan belajarnya,
2. simulasi problem
yang digunakan hendaknya berbentuk ill-structured, dan
memancing penemuan bebas (free for
inquiry),
3. pembelajaran diintegrasikan dalam
berbagai subjek,
4. pentingnya kolaborasi,
5. pembelajaran hendaknya
menumbuhkan kemandirian siswa
dalam memecahkan masalah,
6. aktivitas pemecahan
masalah hendaknya mewakili pada
situasi nyata,
7. penilaian hendaknya mengungkap kemajuan
siswa dalam mencapai tujuan
dalam pemecahan masalah,
8. PBL hendaknya merupakan
dasar dari kurikulum bukan hanya pembelajaran.
● Langkah-langkah pembelajaran PBL
1. problem diberikan
di dalam urutan belajar,
sebelum persiapan atau berlangsungnya kegiatan
2. situasi masalah diberikan kepada siswa dalam cara
yang sama seperti masalah itu
terjadi di dunia
nyata
3. siswa bekerja
menyelesaikan masalah yang dapat
memberi peluang dirinya
berpikir dan menggunakan
pengetahuannya, sesuai dengan level
belajarnya
4. lingkup belajar
pemecahan masalah ditetapkan
dan digunakan sebagai pemandu
belajar individual
5. pengetahuan dan
keterampilan yang diperlukan untuk belajar
ini, diterapkan kembali
pada masalah, untuk mengevaluasi keefektifan belajar dan
memberi penghargaan belajar
6. belajar yang terjadi di
dalam kerja dengan masalah dan
dalam belajar individual,
diringkas dan diintegrasikan ke
dalam pengetahuan dan keterampilan
siswa yang sudah
dimiliki.
Tabel 1.Tahapan-Tahapan Pembelajaran PBL
|
Tahapan |
Tingkah
Laku Guru |
|
Tahap 1
Orientasi siswa kepada masalah
|
Guru
menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan,
memotivasi siswa agar terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang
dipilihnya |
|
Tahap 2.
Mengorganisasi siswa untuk belajar
|
Guru
membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang
berhubungan dengan masalah tersebut |
|
Tahap 3.
Membimbing penyelidikan individual dan kelompok |
Guru
mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksankan
eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan emecahan masalah |
|
Tahap 4.
Mengembangkan dan menyajikan
hasil karya
|
Guru
membantu siswa merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan,
video, dan model serta membantu mereka berbagi tugas dengan temannya |
|
Tahap 5.
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah |
Guru
membantu melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan dan
proses-proses yang mereka gunakan |
Penulis: Herminarto Sofyan dan Kokom
Komariah
Judul:
Pembelajaran
Problem Based Learning Dalam Implementasi Kurikulum 2013 di SMK
Penulis: Andika Dinar Pamungkas, Firosalia Kristin dan Indri Anugraheni.
Judul: Meningkatkan Keaktifan Dan Hasil Belajar Siswa Melalui
Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Pada Siswa Kelas 4 SD
Referensi:
Sofyan, H., Dan Komariah, K. (2016). Pembelajaran
Problem Based Learning Dalam Implementasi Kurikulum 2013 Di SMK. Jurnal Pendidikan Vokasi, 6(3), 260-271. https://doi.org/10.21831/jpv.v6i3.11275
Pemungkas, D, A,. dkk. (2018). Meningkatkan Keaktifan dan
Hasil Belajar Siswa Melalui Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
Pada Siswa Kelas 4 SD. Jurnal Kajian
Penelitan Pendidikan dan Pembelajaran, 3(1), 287-293. https://doi.org/10.35568/naturalistic.v3i1.268
C.Project Based Learning
(PjBL)
Project Based Learning (PjBL) dapat merupakan pendekatan,
strategi atau metode pembelajaran yang berpusat pada siswa. Menurut Patton (2012)
yang dikutip oleh Sani (2014:171) dalam jurnal Dian Novita, Darmawijoyo,
dan Nyimas Aisyah, PjBL harus melibatkan
siswa dalam proyek atau produk yang akan dipamerkan pada masyarakat.
Pembelajaran
menggunakan metode PjBL merupakan teknik yang memberikan inovasi dalam seni
pengajaran. Peran guru dalam metode ini sebagai vasilitator yang memberikan
fasilitas terhadap siswa ketika mengajukan pertanyaan mengenai teori serta
memberikan motivasi terhadap siswa supaya aktif dalam pengajaran (Trianto,
2014:42). Menurut Yahya Muhammad Mukhlis, model pembelajaran yang digunakan ini
memberikan kesempatan pada pendidik untuk mengendalikan penuh proses pengajaran
yang berlangsung. Sistem pengajaran yang diberikan memasukkan kerja proyek
dalam prosesnya (dalam Trianto, 2014:42) dalam jurnal Putri Dewi Anggraini dan Siti Sri Wulandari.
Adapun karakteristik
PjBL menurut Thomas (2000), yakni:
a.
Fokus pada permasalahan untuk penguasaan konsep penting dalam
pembelajaran
b. Pembuatan proyek
melibatkan siswa dalam melakukan investigasi konstruktif
c.
Proyek harus realistis
d. Proyek direncanakan
oleh siswa.
● Langkah-langkah Model
Pembelajaran Project Based Learning
Tahap
1: Penentuan Proyek
Tahap
2: Perencanaan Langkah-langkah Penyelesaian Proyek
Tahap
3: Penyusunan Jadwal Pelaksanaan Proyek
Tahap
4: Penyelesaian Proyek dengan Fasilitas dan Monitoring Guru
Tahap
5: Penyusunan Laporan dan Presentasi/Publikasi Hasil Proyek
Tahap
6: Evaluasi Proyek dan Proyek Hasil Proyek
Penulis: Dian Novita,
Darmawijoyo, dan Nyimas Aisyah
Judul: Pengembangan LKS
Berbasis Project Based Learning Untuk Pembelajaran Materi Segitiga Di Kelas VII
Penulis: Putri Dewi
Anggraini dan Siti
Sri Wulandari
Judul: Analisis
Penggunaan Model Pembelajaran Project Based Learning Dalam Peningkatan
Keaktifan Siswa
Referensi:
Novita, D., dkk. (2016). Pengembangan LKS Berbasis
Project Based Learning Untuk Pembelajaran Materi Segitiga di Kelas VII. Jurnal matematika pendidikan (mathematics Education journal), 10(2).
http://dx.doi.org/10.22342/jpm.10.2.3626.1-12
Anggraini, D, P., dan Wulandari, S, S. (2021). Analisis Penggunaan Model Pembelajaran Project Based Learning Dalam Peningkatan Keaktifan Siswa. Jurnal Pendidikan Administrasi Perkantoran (JPAP), 9(2). https://doi.org/10.26740/jpap.v9n2.p292-299
D Pembelajaran inquiry
Inquiry berasal dari bahasa
inggris “inquiry”, yang secara
harfiah berarti penyelidikan atau pemeriksaan. Bisa juga dari kata “to inquire” yang berarti ikut serta atau
terlibat, dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan, mencari informasi, dan melakukan
penyelidikan (Suryani & Agung, 2012: 119).
Novak mengatakan bahwa inquiry merupakan suatu
tindakan yang memerlukan usaha
dari manusia untuk menjelaskan suatu masalah yang hendak diteliti (Novak, 1964: 25-28) dalam
jurnal Kismatun.
Istilah inkuiri berasal dari Bahasa Inggris, yaitu inquiry yang berarti pertanyaan atau penyelidikan. Pembelajaran inkuiri adalah suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan peserta didik untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga siswa dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri (Trianto 2007: 135) dalam jurnal Jumaisa. Inkuiri merupakan model pembelajaran yang membimbing peserta didik untuk memperoleh dan mendapatkan informasi serta mencari jawaban atau memecahkan masalah terhadap pertanyaan yang dirumuskan.
● Langkah-langkah
pembelajaran Inquiry
1. Orientas
2. Merumuskan masalah
3. Mengajukan hipotesis
4. Mengumpulkan data
5. Menguji hipotesis
6. Merumuskan kesimpulan
● Karakteristik pembelajaran inkuiri
1. Mengembangkan kemampuan
berpikir peserta didik melalui observasi spesifik hingga mampu membuat
inferensi atau generalisasi.
2. Sasarannya adalah
mempelajari proses pengamatan kejadian atau objek dan menyususn generalisasi
yang sesuai.
3. Guru mengontrol bagian
tertentu dari pembelajaran, misalnya kejadian, data, materi dan berperan
sebagai pemimpin kelas.
4. Setiap peserta didik
berusaha membangun pola yang bermakna berdasarkan hasil observasi di dalam
kelas.
5. Kelas diharapkan
berfungsi sebagai laboratorium pembelajaran.
6. Biasanya sejumlah
generalisasi akan diperoleh dari peserta didik.
7. Guru memotivasi peserta didik untuk mengkomunikasikan hasil dari generalisasinya sehingga dapat dimanfaatkan oleh seluruh peserta didik dalam kelas.
Penulis:
Kismatun
Judul:
Pengembangan
Pendidikan Agama Islam Menggunakan Metode Inquiry
Judul:
Model
Pilihan Pembelajaran, Inquiry Atau Expository?
Kisamtun. (2021). Pengembangan Pendidikan
Agama Islam Menggunakan Metode Inquiry. Jurnal
Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan, 1(4). https://doi.org/10.51878/teaching.v1i4.754
Jumaisa. (2020). Model Pilihan Pembelajaran, Inquiry Atau Expository?. Jurnal Ilmiah Mandala Education, 6(2). http://ejournal.mandalanursa.org/index.php/JIME/index
E.flipped classroom
Pembelajaran Bleended Learning Secara ketatabahasaan istilah blended learning terdiri dari
dua kata yaitu, blended dan learning. Blended atau berasal
dari kata blend yang berarti “campuran, bersama untuk
meningkatkan kualitas agar bertambah baik” (Collins
Dictionary), atau formula
suatu penyelarasan kombinasi
atau perpaduan (Oxford English). Secara ketatabahasaan istilah blended learning terdiri dari dua kata
yaitu, blended dan learning. Blended atau berasal
dari kata blend yang berarti “campuran, bersama untuk
meningkatkan kualitas agar bertambah baik” (Collins
Dictionary), atau formula
suatu penyelarasan kombinasi
atau perpaduan (Oxford English Dictionary), sedangkan learning berasal dari learn yang artinya “belajar”.
Sehingga secara sepintas
istilah blended learning
dapat diartikan sebagai campuran atau kombinasi dari pola
pembelajaran satu dengan yang lainnya.
Flipped Clasroom adalah salah
satu model pembelajaran
yang berpusat pada
peserta didik untuk meningkatkan
efektivitas pembelajaran.
Flipped Clasroom memanfaatkan teknologi
yang mendukung materi pembelajaran yang dapat diakses dimanapun,
sedngkan waktu pembelajaran di kelas digunakan
peserta didik untuk
berkolaborasi dengan rekan-rekan
proyek, keterampilan praktik, dan
menerima umpan balik tentang kemajuan mereka Johnson, 2013 dalam (Dewi, dkk,
2017).
1. Model blended learning menggabungkan berbagai
cara penyampaian, model
pendidikan, gaya pembelajaran, dan menggunakan berbagai media berbasis
teknologi.
2. Model pembelajaran blended learning merupakan kombinasi
dari pola pembelajaran langsung
(tatap muka), belajar
mandiri, dan pembelajaran menggunakan sistem online.
3. Guru dan
orangtua memiliki peran yang
sama penting, dimana
guru berperan sebagai fasilitator dan orangtua berperan sebagai
pendukung.
1. Sebelum tatap
muka, peserta didik
diminta untuk belajar
mandiri dirumah mengenai
materi untuk pertemuan berikutnya,
dengan menonton video
pembelajaran karya guru
itu sendiri ataupun video
pembelajaran dari hasil
upload orang lain
atau juga bisa
dengan mempelajari bahan bacaan
terlebih dahulu.
2. Pada pembelajaran
dikelas, peserta didik
dibagi menjadi beberapa kelompok
3. Peran guru
pada saat kegiatan
belajar berlangsung adalah
memfasilitasi berlangsungnya diskusi. Di samping itu, guru juga akan
menyiapkan beberapa pertanyaan (soal) dari
materi tersebut.
4. Guru memberikan
kuis atau tes
sehingga peserta didik
sadar bahwa kegiatan yang
mereka lakukan bukan hanya permaianan, tetapi merupakan proses belajar,
serta guru berlaku sebagai
fasilitator dalam membantu
peserta didik dalam
pembelajaran serta menyelesaikan
soal-soal yang berhubungan dengan materi.
Penulis: Ade Wahyudin
Judul: Model Pembelajaran bleended Learning (Model Flipped Classroom) Untuk Meningkatkan Efektivitas Pembelajaran Ips Pada Masa Pandemi Covid 19
Penulis: Resa Nasriani, Yeni Dwi Kurino dan Yuyun Dwi HaryantiJudul: Model Pembelajaran Flipped Classroom Bagi Siswa SD Pada Abad 21
Referensi:
Wahyudin, A. (2020). Model Pembelajaran bleended Learning
(Model Flipped Classroom) Untuk Meningkatkan Efektivitas Pembelajaran Ips Pada
Masa Pandemi Covid 19. Journal: Sudut Pandang, 1(1). https://doi.org/10.55314/jsp.v1i1.53
Nasriani, R., Kurino, Y. D., & Haryanti, Y. D. (2022). Model Pembelajaran Flipped Classroom Bagi Siswa SD Pada ABAD 21. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan , 4, 220-224. https://prosiding.unma.ac.id/index.php/semnasfkip/article/view/801
F.Blended Learning.
Blended
Learning adalah metode
pembelajaran, pengajaran dan pembelajaran pendekatan
yang menggabungkan metode
kelas tatap muka
dengan aktivitas komputer dimediasi
untuk memberikan instruksi.
Kekuatan dari pendekatan pembelajaran ini
adalah kombinasi dari
kedua tatap muka
dan metode mengajar
online menjadi satu pendekatan pembelajaran terpadu.
Pada awalnya istilah Blended
learning juga dikenal dengan konsep
pembelajaran hiprida yang memadukan pembelajaran
tatap muka, online dan offline
namun akhir ini berubah menjadi blended learning. Blended artinya campuran
atau kombinasi sedangkan
learning adalah pembelajaran.
Pendapat pula dinyatakan
oleh Graham bahwasannya
blended learning merupakan
perpaduan atau kombinasi
dari berbagai pembelajaran yaitu
mengkombinasikan pembelajaran tatap
muka (face to
face) dengan konsep
pembelajaran tradisional yang sering dilakukan oleh praktisi pendidikan dengan
melalui penyampaian materi
langsung pada siswa
dengan pembelajaran online dan offline yang menekankan pada pemanfaatan
teknologi. 7
1. Pencarian
informasi secara online
maupun offline dengan
berdasarkan pada relevansi,
validitas, realibilitas konten dan kejelasan akademis,
2. Menemukan, memahami,
dan mengkonfrontasikan ide atau gagasan,
3. Menginterpretasikan informasi
atau pengetahuan dari
berbagai sumber yang
telah dicari dari berbagai sumber,
4. Mengkomunikasikan ide
atau gagasan hasil
interpretasinya menggunakan fasilitas online atau offline,
5. Mengkontruksikan pengetahuan
melalui proses asimilasi
dan akomodasi dari
hasil analisis, diskusi, dan
penarikan kesimpulan dari
informasi yang diperoleh menggunakan fasilitas
online atau offline.
1. Pembelajaran dapat
dimulai dengan tatap muka ataupun sepenuhnya online;
2. Memberikan arahan
terhadap peserta didik untuk melakukan
pencarian informasi dari
berbagai sumber;
3. Peserta didik memahami dan
menginterpretasikan,
mengkomunikasikan dan mengkontruksikan pengetahuan serta
menarik kesimpulan dari
ide atau gagasan
dari sumber yang
telah ditemukan menggunakan fasilitas online atau offline.
●Karakteristik Blended
learning (dalam jurnal
Walib
Abdullah)
1. Proses pembelajaran yang menggabungkan berbagai
model pembelajaran, gaya
pembelajaran serta penggunaan berbagai media
pembelajaran berbasis teknologi
dan komunikasi,
2. Perpaduan antara pembelajaran mandiri
via online dengan pembelajaran
tatap muka guur
dengan siswa serta menggabungkan pembelajaran mandiri,
3. Pembelajaran didukung
dengan pembelajaran yang efektif
dari cara penyampaian, cara
belajar dan gaya pembelajarannya,
4. Dalam blended learning orang tua dengan guru juga mempunyai peran penting dalam pembelajaran anak didik guru merupakan fasilitator sedangkan orang tua sebagai motivator dalam pembelajaran anaknya.
Penulis: Ilham Fatkhu
Romadhon
Judul: Implementasi Blended Learning di Era New Normal Untuk
PTMT (Perkuliahan Tatap Muka Terbatas) Di KBA UM
Penulis: Walib Abdullah
Judul: Model Blended Learning Dalam Meningkatkan Efektifitas Pmbelajaran
Referensi:
Romadhon, F, I. (2022). Implementasi Blended Learning di Era New Normal Untuk
PTMT (Perkuliahan Tatap Muka Terbatas) Di KBA UM. Journal of Arabic Studies, 2(1). https://doi.org/10.55380/mahira.v2i2.285
Abdullah, W. (2018). Model Blended
Learning dalam Meningkatkan Efektifitas Pembelajaran. FIKROTUNA: Jurnal
Pendidikan Dan Manajemen Islam, 7(01), 855–866. https://doi.org/10.32806/jf.v7i1.3169
7Antony G. Piccianon, Charles D, Dziuban, charkes R. Graham. Blended Learning Research Perspestive. (New york: Routledge, 2014),

Semangat
BalasHapus